saint Mary's way

  Saint Mary's Way

kunjungan saya ke Panti Cahaya Kasih

*Geraldine k.p


SEE: Persiapan untuk kunjungan ke Panti Asuhan Cahaya Kasih sudah dimulai jauh sebelum hari keberangkatan. Di sebuah kelas yang hangat namun penuh kesibukan, saya dan teman-teman duduk melingkar, memikirkan apa saja yang harus dilakukan. Ide-ide bermunculan dari setiap anggota, dan kami mencoba menyatukannya menjadi satu rencana besar yang bermakna. Kami sepakat untuk membawa bingkisan dan kebutuhan sehari-hari untuk anak-anak panti, serta mengadakan beberapa kegiatan sederhana yang bisa membuat mereka tersenyum.

Saya, Jesslyn, Vidy, Tia, dan Ayu mendapat tugas untuk pergi ke Prama. Kami mendorong troli sambil memilih berbagai snack dan kebutuhan lain yang sekiranya diperlukan. Setelah belanja, kami membawa sebagian di rumah masing-masing untuk mulai mengemas bingkisan. Satu per satu snack kami masukkan ke dalam plastik, empat hingga lima item setiap bungkus. Walaupun sederhana, kami melakukannya dengan penuh niat. Selain itu, kami juga menyelesaikan pohon harapan dan memastikan tujuh puluh paket bingkisan siap dibawa.


Hari kunjungan pun tiba. Pagi itu, udara Bandung terasa sejuk, tetapi perut saya dipenuhi kupu-kupu karena rasa gugup dan antusias yang bercampur. Kelompok kami seharusnya terdiri dari lima belas orang: saya, Godwin, Jesslyn, Tia, Ayu, Yumna, Aruna, Maureen, Saras, Bella, Ricardo, Dame, dan Revita. Namun, Vidy dan Aurora tidak dapat ikut karena ada urusan mendadak yang tak bisa ditinggalkan.

Kami berangkat bersama, namun tak bisa dipungkiri bahwa kami datang agak terlambat dari jadwal yang ditentukan. Seharusnya kami tiba pukul 09.00 pagi, tetapi langkah kami baru sampai di depan gerbang Panti Asuhan Cahaya Kasih sekitar beberapa menit setelahnya. Lokasinya berada di Jl. Karya Mukti No.132, Babakan Ciparay, Bandung—sebuah bangunan sederhana dengan suasana hangat yang langsung terasa begitu kami memasuki halaman.

Ketika pintu terbuka, anak-anak panti menyambut kami dengan senyum lebar dan sapaan polos yang langsung membuat hati terasa lembut. Rasanya seperti masuk ke rumah yang penuh kasih, meskipun kami belum pernah bertemu sebelumnya. Senyum mereka menghapus lelah kami sekaligus membuat kami ingin memberikan yang terbaik.

Kami memulai acara dengan perkenalan. Anak-anak duduk melingkar bersama kami, sebagian malu-malu, sebagian lagi ceria dan aktif. Setelah itu, kami bernyanyi bersama lagu-lagu sekolah minggu. Suara kecil mereka memenuhi ruangan, membuat suasana hidup dan penuh damai. Beberapa anak bernyanyi sambil bertepuk tangan, dan kami ikut terbawa suasana.

Kegiatan selanjutnya adalah menyusun puzzle. Kami membagi mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Banyak dari mereka langsung bergerak cepat, mencari potongan yang cocok sambil saling membantu. Anak-anak yang masih kecil sering kali bingung mencari pasangannya, sehingga kami membantu mereka menyusun potongan demi potongan. Melihat mereka tersenyum ketika sebuah gambar akhirnya terbentuk membuat hati terasa hangat.

Setelah puzzle, kami memberikan mereka gambar-gambar yang sudah diprint untuk diwarnai. Krayon dan pensil warna berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Ada yang mewarnai dengan hati-hati, ada yang melakukannya secepat mungkin karena ingin menunjukkan hasilnya. Di sela kegiatan, kami kembali bernyanyi bersama, menambah kedekatan antara kami dan mereka.


Tak lupa, kami kemudian membagikan bingkisan serta kebutuhan sehari-hari kepada anak-anak. Meskipun isinya sederhana, kami berharap bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Senyum kecil yang muncul ketika mereka menerima bingkisan itu sudah cukup menjadi hadiah bagi kami.

Menjelang akhir, kami berkumpul bersama untuk berdoa. Suasana menjadi tenang dan penuh rasa syukur. Setelah doa selesai, kami berpamitan dengan harapan suatu hari dapat kembali lagi. Kami meninggalkan panti sekitar pukul 11.00 siang, membawa pulang kenangan yang tak akan terlupa.

Di perjalanan pulang, saya merenungkan banyak hal. Saya sadar bahwa tidak semua orang merasakan kasih Tuhan dengan cara yang sama. Melihat anak-anak panti membuat saya belajar bahwa kasih itu bisa hadir dalam bentuk sederhana—seperti perhatian kecil, waktu yang kita berikan, atau sapaan hangat yang tulus. Yang berharga bukan besar kecilnya pemberian, tetapi ketulusan hati.

JUDGE: Kunjungan itu mengajarkan kami untuk lebih bersyukur, peduli, dan rendah hati. Kami pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi juga perubahan kecil dalam diri. Saya teringat nilai dalam Kejadian 48 tentang memberi perhatian dan menyalurkan kasih; hari itu, saya benar-benar merasakannya. Kami belajar bahwa setiap orang berharga di mata Tuhan, dan melalui sederhana yang kami lakukan, kami juga belajar menjadi berharga bagi orang lain. 

ACT:

  • Melayani dengan hati yang lebih tulus dan rendah hati.
  • Lebih peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar saya.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan sosial secara berkelanjutan.
  • Menjadikan pelayanan sebagai bagian nyata dari kehidupan sehari-hari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanfaatan Teknologi

memanfatkan waktu